Dreams = Impian atau Mimpi??

Sejak kecil kita sering mendengar kata “IMPIAN” seperti “negeri impian”, “pekerjaan impian”, “hadiah impian”. Begitu juga dengan kata “MIMPI”, seperti “mimpi indah”, “mimpi seram”, dsb.

Jika kita berbicara tentang impian, maka kita bicara tentang sebuah hal yang akan datang. Sebuah harapan, keinginan atau hasrat mengenai sesuatu hal. Seperti yang diungkap di atas, impian merupakan cita-cita. Setiap manusia mempunyai hak untuk menggapai impiannya. Sayangnya seringkali manusia itu sendiri membatasi impiannya dengan kata-kata “mimpi”.

Kata “mimpi” seringkali berkonotasi negatif, seperti jika kita mengejek orang lain “Mimpi kali ye…”. Kalimat tersebut mengesankan seakan-akan manusia tidak berhak punya sebuah impian dan tidak akan mungkin menggapai impian itu. Kacaunya lagi seringkali kalimat itu tidak kita dengar dari orang lain, melainkan mengucapkannya sendiri bagi diri kita. “Punya mobil Mercedez? Mimpi kali gue.” – “Punya rumah mewah di real estate? Mimpi kali gue.”

Mengapa kita seringkali mengeluarkan pernyataan di atas? Di dalam kesulitannya, manusia seringkali tidak melihat kesempatan yang datang kepadanya. Seringkali ia hanya terpaku pada kesulitannya sehingga ia tidak pernah tahu kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menolongnya. Dalam hal ini, manusia memberi penjara bagi kemungkinan kesuksesan dirinya.

Sementara, banyak orang yang bisa berhasil hanya dengan berbekal “IMPIAN” yang kuat. Setiap saat, impian itu memotivasi dirinya. Setiap detik, impian mendorong dirinya untuk melangkah lebih cepat lagi. Sehingga, setiap ada kesempatan yang datang tidak akan pernah disia-siakannya. Ini yang membedakan orang yang memiliki IMPIAN dengan orang yang pe-MIMPI. Orang pemimpi hanya akan terlena dengan mimpi-mimpinya. “Mudah-mudahan nanti aku bisa beli mobil mewah itu.” Nah, itu mimpi.

Untuk mencapai impian kita diperlukan “daya ungkit”. Daya ungkit seperti yang kita pelajari sewaktu SMP dulu, adalah kemampuan untuk mengangkat beban menggunakan tenaga yang lebih kecil dengan bantuan sebuah alat. Nah, daya ungkit itu yang harus ditemukan setiap orang dalam hidupnya. Ada yang menemukan “daya ungkit” itu dalam pendidikannya sehingga ia mengejar ilmu setinggi-tingginya. Ada yang menemukan itu di dalam kariernya, sehingga ia bekerja mati-matian dari pagi sampai pagi lagi. Ada yang menemukan daya ungkitnya berada pada internet, sehingga ia menjadi marketer handal di dunia maya, dan lain sebagainya.

Orang yang belum menemukan daya ungkitnya, hanya akan berada pada keadaan yang biasa-biasa saja. Ia akan menjalani rutinitas yang itu-itu saja tanpa ada perubahan yang berarti. Jika ia tidak segera mencari daya ungkitnya, maka ia akan menjadi orang yang tersia-sia. Ia akan hidup dalam ketidakpuasan, rasa frustrasi dan tingkat stress yang tinggi.

Melalui tulisan ini saya mengajak Anda untuk menemukan daya ungkit (leverage) Anda. Saya pun menggunakan daya ungkit internet untuk mendapatkan kebebasan finansial. Jika Anda ingin tahu daya ungkit itu silahkan klik:

http://www.bisnis5milyar.net/?id=antonbinsar

Semoga daya ungkit ini juga bisa menjadi daya ungkit Anda.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.